ASN harus Kreatif dan Inovatif

“Menyusun Sasaran Kinerja Pegawai barangkali awal dari cara kita mengukur efektifitas kinerja kita apakah yang kita rencanakan sudah mencerminkan capaian organisasi kita dalam tahun itu. Jika tidak, maka pasti ada yang salah dalam membuat sasaran kinerja”

Aparatur Sipil Negara dalam tatanan kehidupan bernegara merupakan abdi negara dan sekaligus abdi masyarakat. Abdi dalam kaedah bahasa adalah orang yang mengabdikan diri dan melayani tanpa pamrih. Dengan demikian, abdi negara adalah orang yang mengabdikan diri untuk melayani negara dalam upaya mencapai tujuan negara. Sedangkan abdi masyarakat merupakan salah satu fungsi negara untuk memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat/warganegaranya. Karena itu, Presiden Joko Widodo, melalui Inpres No. 12 tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental menyusun salah satu program yakni Program Gerakan Indonesia Melayani(GIM) dengan konsep memberikan pelayanan yang maksimal terhadap setiap warganegara. Dalam konsep ini difokuskan kepada peningkatan kapasitas sumber daya manusia aparatur sipil negara(ASN), peningkatan penegakan disiplin aparatur pemerintah dan penegak hukum, penyempurnaan standar pelayanan dan sistem pelayanan yang inovatif (e-government) sehingga pelayanan dari negara kepada masyarakat bisa optimal.

PNS sebagai aparatur sipil negara harusnya sudah tahu tupoksi jabatannya dan paham apa yang akan dikerjakan serta bagaimana melakukannya. Jikapun dia tidak paham, maka mencari tahu supaya paham adalah hal yang biasa dilakukan seorang pekerja. Dengan demikian, abdi negara harus punya rencana kerja. Rencana kerja dalam istilah sekarang disebut SKP(Sasaran Kinerja Pegawai). Mungkin tak asing lagi bagi kita istilah itu, namun tidak semua orang memahami dengan SKP yang dibuatnya. Hal ini disebabkan antara lain : tidak mengacu pada tupoksi atasannya, tidak mengerti uraian tugasnya, membuat SKP sebagai prasyarat saja, tidak ada evaluasi pimpinan terhadap penyusunan SKP dan hasilnya serta banyak faktor lainnya.

Rencana kerja adalah “apa yang dilakukan” untuk “menghasilkan apa”

Seorang PNS yang baik tentu tidak harus diperintah untuk mengerjakan tugas pokoknya, karena dengan SKP yang disusun sudah tau apa output dan outcome yang akan dihasilkannya. Kadang sikap sungkan dengan pimpinan menjadi alasan seorang PNS menjadi tidak kreatif. Namun jika PNS sudah mengerti apa guna SKP yang disusun dengan persetujuan atasan langsungnya, maka tidak lagi ada istilah sungkan. Persetujuan atas langsung terhadap SKP secara tidak langsung memberikan kewenangan bawahan untuk kreatif dan inovatif untuk mencapai target yang telah ditentukan. Dengan demikian, tugas kita kita hanya perlu menyusun rencana kerja untuk mencapai target yang sudah kita susun. Lantas apa dan bagaimana peran atasan langsung dalam menyusun rencana kerja?
Atasan langsung sebagai pengawas kinerja harus mampu melakukan terobosan dan inovasi dalam kinerja. Apa misi organisasi harusnya mampu dijabarkan secara konkrit dalam rencana kerja PNS. Disinilah tugas seorang atasan untuk menyesuaikan apa yang telah direncanakan bawahan dalam bekerja dengan apa yang ingin dicapai oleh organisasi.

4B membuat kita nyaman

Dalam dunia kepegawaian dan dunia kerja dikenal istilah Bekerja Keras, Bekerja Cerdas, Bekerja Tuntas dan Bekerja Ikhlas. Apabila keempat hal tersebut dilakukan tentu hasil akhirnya menjadi berkualitas. Tanpa kerja keras, kerja cerdas tak akan berhasil, begitupun bila tak ada keikhlasan dalam bekerja sama saja dengan sia-sia dan jika kerja tidak tuntas, mana mungkin bisa berhasil dan berkualitas? Lalu Apakah yang Dimaksud dengan Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas, Kerja Tuntas?

Yang dimaksud dengan Kerja Keras adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, sekuat daya dan tenaga, penuh semangat, pantang menyerah, untuk mencapai hasil terbaik.

Kerja Cerdas adalah kerja yang tidak hanya mengandalkan otot, namun juga menggunakan otak, bisa berpikir kreatif dan inovatif, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan waktu yang efektif, sehingga masih memiliki waktu dan energi untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan yang lainnya. Dan biasanya kerja cerdas ini dimiliki oleh kaum intelektual atau ilmuwan. Jadi, bekerja cerdas adalah pandai melihat peluang, memperhitungkan risiko dan mampu mencari solusi dalam penyelesaiannya.

Kerja Ikhlas adalah bekerja dengan hati, dengan niat yang tulus semata-mata untuk ibadah dan mencari keridhaan Sang Pencipta, sehingga jika akhirnya berhasil maka kita akan lebih bersyukur dan jika tidak berhasil, maka kita tidak akan kecewa, karena semuanya sudah diatur oleh yang Kuasa, kita tinggal berusaha dan berdo’a. Jadi, jika kita bekerja dengan ikhlas, maka kerja kita bernilai ibadah dan ada ganjaran pahala buat kita.

Kerja Tuntas adalah bekerja dengan semangat, sampai selesai dan tidak setengah-setengah. Seberapa pun banyaknya pekerjaan kita, harus kita selesaikan sampai akhir, sehingga semua pekerjaan kita memperoleh hasil yang sukses.

Dengan 4B kita akan memiliki nilai lebih dalam setiap hasil kerja. Meski kadang tidak semua orang menghargai usaha kita….namun yakin saja bahwa setiap usaha…..pasti ada hasilnya.

Kreatifitas dan inovatif modal penting PNS.

Sasaran Kinerja yang telah kita susun menjadi dasar dalam membuat rencana kerja. Karena dengan sasaran yang jelas, maka akan memudahkan kita menyusun langkah-langkah dalam mencapainya. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi PNS untuk datang, duduk dan diam. Karena sasaran kinerja yang dibuat merupakan satu kometmen bersama antara PNS dengan atasannya.

Pencapaian target yang telah ditentukan, upaya yang akan dilakukan dan hasil apa yang akan kita dapatkan menjadi satu kesatuan yang tidak mungkin terpisahkan. Disinilah pentingnya atasan langsung memahami visi dan misi organisasi dan menyusun langkah mencapainya. Visi dan misi yang tertuang dalam renstra instansi harus mampu dijabarkan secara konkrit dalam renja secara periodik. Pilihan untuk melakukan apa untuk mencapai apa akan dapat diapresiasi dengan terlaksananya sasaran kerja yang telah disusun oleh masing-masing PNS….#god job guest….